surat rakyat



Dear presidenku
Dengan menyebut nama allah…aku ingin berbagi dan bercerita kepada mu pak…ini cerita tentang bangsa kita, tentang keseharianku yang melihat, mendengar, menatap dan berfikir sebagian kecil kegiatan sehari-hari rakyatmu. Bangsa kita itu kaya, tetapi kenapa ya pak, hanya kaya tanah dan rakyatnya saja yang banyak, namun, tidak kaya akan hati dan pikiran nya. Padahal dua hal itu dapat membuat bangsa ini berubah menjadi lebih baik.
Pak, aku seorang pemuda, aku memang belum bisa berbuat apa-apa untuk negara ini. aku ingin sekali bercerita dengan bapak. Teantang keseharian yang aku lihat. Khususnya di ibukota Jakarta ini.
Pak, aku sedih, aku iba melihat semuanya. Melihat rakyat mu semakin jauh dari kepribadian nenek moyangnya. Tak ada lagi kepedulian satu sama lain. Aku sering melihat kalau pagi orang Jakarta berangkat kerja dengan semangat, baju berkemeja, berdasi, rapih. Mereka pun bisa makan enak, belanja barang mewah. Tetapi di malam hari aku sangat sering melihat orang tidur di emperan, di halte bus dan ketika aku Tanya punya rumah atau tidak. Jawaban mereka “ rumah kami adalah bumi ini, langit adalah atap nya”..
Sedangkan di berita-berita anda (presiden) melihat, orang-orang yang anda percayai sebagai para pembantu anda (menteri, jaksa, DPR dll) berbuat kesalahan kepada rakyat. Anda bela mereka tetapi ketika melihat rakyat anda menjerit dengan kebijakan yang anda keluarkan..anda hanya bisa curhat di depan media. Tanpa membela rakyat anda, dan keluarkan kebijakan yang bisa membuat rakyat anda tenang.
Bapak…..
Ketika rakyat anda menjerit, ketika mereka meninggal dalam kelaparan, ketika mereka meninggal karena tidak mendapat pelayanan dari pemerintah sebagai mana yang menjadi amanat undand-undang. Apa anda tidak merasa itu adalah tanggung jawab anda pak..??
Lihatlah kami pak…rakyatmu…amanahmu…
Belalah kami…lingdungilah kami…sejahterakanlah kami…
Apa anda tega melihat rakyatmu mengemis…??..padahal kami hidup di negara sendiri…
Apa anda tega melihat kami hanya jadi budak bangsa lain…??..padahal kami hidup di Negara sendiri…
Kami (rakyatmu)..tidak pernah menuntut banyak darimu pak..kami hanya ingin sejahtera lahir dan batin kami..
Ini semua baru cerita potret hidup rakyatmu di Jakarta pak…ibukota Negara..kota dengan penuh sejarah dan kenangan perjuangan. Sebuah kota dimana istana Negara tempat anda bekerja berada..sangat dekat dengan anda…tetapi kenapa anda membiarkan semua seperti ini…
Para pemuda penerus bangsa anda biarkan terpengaruh oleh gaya asing..dan saya yakin..mereka para pemuda lambat laun tak mengenal sejarah dan kebudayaan bangsa nya…
Saya mendengar, melihat dan membaca..anda selalu berkata..perekonomian Negara ini tumbuh, kemiskinan berkurang…tetapi kenyataan nya rakyatmu tetap menjerit, mengencangkan ikat pinggang karena mahal nya untuk bertahan hidup. Kenapa anda selalu berbicara secara teori dan statistic terus…lihat lah secara langsung pak..jangan lah anda gampang percaya dengan laporan-laporan para pembantu anda yang mengatakan rakyatmu ini baik-baik saja dan sejahtera. Lihat lah kami secara langsung pak.
Rakyat ini sudah berubah, dahulu kita di sebut rakyat yang ramah..tetapi sekarang kita menjadi rakyat yang gampang marah. Banyak peristiwa kerusuhan antar warga dimana-mana. Tetangga bunuh tetangga, mutilasi dan lain sebagai nya.
Beri kami contoh pak….
Kami butuh contoh dan pengayom…tetapi bukan pemain sandiwara pemerintahan. Ini hidup nyata, bukan dongeng teater yang gampang di manipulasi.
Banyak rakyatmu serasa hidup bukan di Negara sendiri. Kami seperti hidup di Negara lain. Kenapa demikian pak..??..dimana-mana kami lihat barang sehari-hari kita berasal dari produk bangsa lain..dan dimana kah produk barang buatan kita sendiri pak..
Ketika pemilu anda para pemimpin ingat dengan kami..tetapi setelah itu..kalian lupa dan membuat kami sengsara…
Wahai bapak presiden…pemimpinku…
Bimbinglah kami pak…gembalakan kami menuju padang yang hijau dan tenang (kesejahteraan) dan jangan lah anda bawa kami ke padang yang gersang dan panas (kesengsaraan)…kami (rakyatmu) ini manusia pak…bukan binatang…kami rindu pemimpin yang amanah, jujur, adil dan berpikir untuk rakyatnya.
Anda adalah bangsa Indonesia pak…anda milik rakyat bukan milik partai atau kepentingan..anda dalah pemimpin kami..
Dan ingat pak…
Suatu saat nanti…ketika anda bertelanjang di hadapan tuhan, hakim yang maha adil…jiwamu akan jadi saksi, dan rakyatmu akan jadi amanah bahkan jadi jaksa atau pengacara mu di akhirat kelak.
Berbuat baiklah pada rakyat mu pak….
Berbuat adillah pada rakyatmu pak…
Jangan buat kami (rakyatmu) menderita….

1 komentar: